
Jakarta, Islam Republic Indonesia
—
Amerika Serikat
kembali membombardir kota pusat pembangkit tenaga nuklir
Iran
,
Bushehr, Rabu (14/7) pagi waktu setempat.
Kantor berita Iran
IRNA
melaporkan serangan udara AS kembali menargetkan Bushehr, dikutip dari
AFP
.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Musuh Amerika menyerang tiga lokasi di Bushehr hari ini,” kata Gubernur Kota Bushehr Mohammad Mozafari kepada
IRNA
.
Sejauh ini belum ada laporan mengenai kerusakan atau korban tewas akibat serangan AS ke salah satu PLTN terbesar di Iran tersebut.
Iran sebelumnya telah mengaktifkan sistem rudal pertahanan untuk mencegah serangan-serangan udara dari AS.
Antisipasi itu dilakukan setelah Presiden AS Donald Trump memberikan ultimatum kepada Iran bahwa pembangkit listrik tenaga nuklir dan jembatan akan menjadi target pada fase terakhir kecuali Teheran setuju untuk kembali bernegosiasi dengan AS.
Pemimpin Partai Republik itu kemudian mengatakan bahwa AS akan terus melakukan serangan “sangat keras” terhadap Iran sampai dia memutuskan “itu sudah cukup”.
Dia juga mengatakan AS mengadakan pembicaraan dengan Iran pada Selasa dan mendesak Teheran untuk mencapai kesepakatan.
AS pernah melancarkan serangan besar-besaran ke PLTN Bushehr sejak perang antara Teheran dan Washington kembali meletus pada 28 Februari.
PLTN Busher merupakan hasil kerjasama dengan Rusia. Menurut Dr Bichara Khader, Profesor Emeritus Université Catholique, Prancis yang mendalami masalah dunia Arab kontemporer, PLTN Bushehr adalah program nuklir Iran yang pada awal tahun 1990-an kekurangan dana, tapi kurang mendapat dukungan negara-negara Barat.
“Saat itulah Iran beralih ke Tiongkok, yang mulai sangat membutuhkan minyak dan gas Iran, dan terutama Rusia, yang dengan senang hati mengambil alih peran negara-negara Barat di negara yang sentralitas strategisnya tidak diragukan lagi,” kata Bichara dalam laman European Institute of Mideterranean.
Kerja sama dengan Rusia menghasilkan penyelesaian unit pertama Pembangkit Listrik Bushehr. Kontrak tersebut ditandatangani pada tahun 1999.
Perjanjian kerja sama dengan China, pada bagian lainnya, ditandatangani lebih awal, pada tahun 1990, untuk “transfer teknologi siklus bahan bakar nuklir.”
Kerjasama teknologi Iran dengan Rusia dan China ini, membangkitkan kemarahan AS, yang memberlakukan serangkaian sanksi antara tahun 1995 dan 1996 terhadap perusahaan-perusahaan yang berinvestasi di sektor minyak dan gas Iran.
(bac)
Add
as a preferred
source on Google
[Gambas:Video Islam Republic]
Baca lagi: OpenAI Respons Gugatan Apple yang Tuding Pencurian Rahasia Dagang
Baca lagi: Sarwendah Hadiri Sidang Perdana Gugatan Hak Asuh Anak
Baca lagi: Teater Musikal Senja Teduh Pelita Mulai Digelar 3 – 12 Juli



5 Responses
Terima kasih atas penjelasannya, ulasan ini sangat membantu mencerahkan. Sebagai tambahan referensi, saya juga sempat membaca artikel senada yang lumayan mendalam di https://kldp.org/comment/254313 tadi.
Setuju sama opini penulisnya, apalagi di bagian kesimpulan. Saya sempet baca referensi pendukungnya juga kemaren di https://kldp.org/comment/271028 nyambung banget.
Top banget artikelnya! Nggak nyesel nyempetin waktu buat baca. Barangkali butuh bacaan tambahan, referensi dari https://kldp.org/comment/254324 juga patut buat dicek.
Keren artikelnya, penyampaiannya asik dan bikin gampang nangkep maksudnya. Buat nambah-nambah referensi, website https://kldp.org/comment/254307 juga ngobrolin topik yang persis kayak gini.
Saya jadi lebih paham setelah membaca artikel ini. Kebetulan saya juga menemukan https://kldp.org/comment/259011 yang membahas topik serupa dengan cukup lengkap.