
Jakarta, Islam Republic Indonesia
—
Gencatan senjata antara
Amerika Serikat
dan
Iran
goyah setelah AS menyerang sejumlah target di Iran dan menyebutnya sebagai respons balasan atas serangan terhadap kapal penting di Selat Hormuz.
Bentrokan ini jadi ketegangan baru pada proses negosiasi yang semula bertujuan untuk mengakhiri perang yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel pada akhir Februari 2026.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Komando Pusat AS, atau CENTCOM, mengatakan pada Minggu (28/6), bahwa mereka menyerang “beberapa target di Iran.”
CENTCOM mengatakan hal tersebut sebagai respons terhadap serangan drone Iran terhadap kapal tanker minyak berbendera Panama “Kiku,” yang membawa sekitar dua juta barel minyak mentah.
Militer AS mengatakan aksi ini menargetkan “infrastruktur pengawasan, sistem komunikasi, situs pertahanan udara, fasilitas penyimpanan drone, dan kemampuan penyebar ranjau.”
Seperti diberitakan AFP, media Iran melaporkan beberapa ledakan terjadi di daerah Sirik dan Qeshm, Iran selatan.
Pada Jumat (26/6), Amerika Serikat juga melakukan serangan yang menurut mereka sebagai tanggapan atas serangan Iran lainnya terhadap sebuah kapal, Ever Lovely.
Iran mengatakan pada Sabtu (27/6), bahwa mereka telah menyerang target AS di Teluk sebagai balasan. Garda Revolusi Iran mengatakan “jika agresi diulangi, tanggapan kami akan lebih luas.”
Peningkatan kekerasan dan serangan ini tersebut perselisihan terkait kendali atas Selat Hormuz.
Iran telah memperingatkan kapal-kapal untuk tidak memasuki atau meninggalkan Teluk melalui selat tersebut tanpa izin. Akan tetapi kapal-kapal terus berlayar, beberapa di antaranya menggunakan rute yang tidak diizinkan oleh Teheran.
H.A. Hellyer, dari lembaga think tank London, Royal United Services Institute, mengatakan “Iran kemungkinan akan terus melakukan aktivitas paksaan tingkat rendah yang terukur di dalam dan sekitar Selat Hormuz…. untuk menciptakan tekanan terus-menerus pada pelayaran internasional tanpa memicu konflik yang lebih luas”.
Ia mengatakan pemilihan paruh waktu Kongres AS pada November 2026 nanti memberi Washington “insentif untuk kesepakatan yang lebih cepat.” Sementara itu bagi Iran, “negosiasi yang berlarut-larut disertai dengan tekanan terkontrol di selat dapat menguntungkan mereka.”
(afp/end)
Add
as a preferred
source on Google
[Gambas:Video Islam Republic]
Baca lagi: Pendiri Stripe: Gen Z Perlu Punya 2 Ijazah untuk Survive di Era AI
Baca lagi: Hasil Piala Dunia 2026: Kroasia Lolos 32 Besar usai Bungkam Ghana
Baca lagi: Aliansi Guru Besar Kecam Dugaan Aksi Represif ke Massa Aksi Surabaya




4 Responses
akan sangat di sayangkan jika kalian tidk tahu artikel yang penuh makna ini https://www.kufirst.center.ku.ac.th/%E0%B8%9B%E0%B8%A3%E0%B8%B0%E0%B8%81%E0%B8%B2%E0%B8%A8%E0%B8%9B%E0%B8%B4%E0%B8%94%E0%B8%AA%E0%B8%B3%E0%B8%99%E0%B8%B1%E0%B8%81%E0%B8%87%E0%B8%B2%E0%B8%99_11072021/
Semoga informasi yang dibagikan terus memberikan manfaat bagi banyak orang. http://summit-americas.org/Quebec_Summit/Quebec-Indigenous/indigenous-mainpage-span.htm
Pembahasan yang sangat menarik dan sesuai dengan kebutuhan pembaca saat ini. https://www.charlottemagazine.com/new-music-tuesdays-this-week-lucero-drive-by-truckers-dave-alvin/
Penyampaian materinya sangat runtut. Bagi yang ingin mencari referensi lain, bisa mampir ke https://www.vevioz.com/king88comguru/groups.