
Jakarta, Islam Republic Indonesia
—
Militer AS mengatakan, pada Sabtu (11/7) waktu Washington DC, bahwa mereka telah melancarkan serangan baru terhadap
Iran
, setelah Teheran “secara terang-terangan menyerang” sebuah kapal kontainer di Selat Hormuz.
Komando Pusat AS (CENTCOM) dalam pernyataan menyebut serangan terbaru mereka diluncurkan Minggu (12/7) pukul 23.15 GMT atau sekitar pukul 02.45 dini hari waktu Teheran.
Serangan yang disebut atas arahan Presiden Donald Trump itu diluncurkan “setelah pasukan Korps Garda Revolusi Islam secara terang-terangan menyerang” sebuah kapal kontainer berbendera Siprus yang melintasi Selat Hormuz.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Amerika Serikat memberikan kerugian besar dengan terus melemahkan kemampuan Iran untuk menyerang pelaut sipil dan kapal komersial yang bebas melintasi selat,” kata CENTCOM seperti diberitakan
AFP
.
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth hanya mengatakan bahwa “Iran membuat pilihan yang buruk. Sekarang mereka membayar akibatnya.”
Sementara itu, Garda Revolusi Iran sebelumnya mengumumkan Selat Hormuz ditutup “sampai pemberitahuan lebih lanjut”, setelah mereka melepaskan tembakan peringatan ke sebuah kapal yang dinilai menggunakan jalur yang tidak sah.
Garda Revolusi Iran mengatakan kapal itu “terkena tembakan peringatan dan berhenti” setelah mengabaikan instruksi berulang kali untuk menggunakan koridor pelayaran yang disetujui, menurut pernyataan yang dimuat kantor berita Iran, IRNA, pada Minggu (12/7).
“Setelah insiden ini… Selat Hormuz akan ditutup hingga pemberitahuan lebih lanjut dan hingga berakhirnya intervensi Amerika di wilayah ini dan tidak ada kapal yang diizinkan untuk melewatinya,” kata Garda Revolusi.
Garda Revolusi juga mengatakan mereka akan menargetkan “pangkalan musuh baru di wilayah tersebut” jika aksi militer baru dilakukan terhadap mereka.
AFP
menyebut serangan ini mengancam makin mempersulit upaya menyelamatkan negosiasi AS-Iran setelah kedua pihak saling melancarkan serangan dalam beberapa hari terakhir.
Hambatan utama untuk mencapai kesepakatan akhir adalah masa depan Selat Hormuz, dengan Teheran bersikeras akan mengendalikan pelayaran melalui jalur air tersebut sementara Washington menuntut navigasi tanpa batasan.
(afp/end)
Add
as a preferred
source on Google
[Gambas:Video Islam Republic]
Baca lagi: Pria Dibunuh Gegara Messi Gagal Penalti saat Lawan Mesir
Baca lagi: Sambut HDI 2026, DWP Kemensos dan Viva Cosmetics Gelar Beauty Class
Baca lagi: Jude Bellingham: Nyawa Lini Tengah Inggris, Sang Pemecah Kebuntuan




5 Responses
Gak nyangka bakal bahas sedetail ini, salut buat penulisnya! Oh iya, kemarin-kemarin saya juga nemu info yang pas banget ngebahas ginian di https://kldp.org/comment/268749.
Makasih udah di-share ilmunya, ini bermanfaat banget buat pemula. Sekadar berbagi aja, situs https://dl.nanet.go.kr/detail/NONB1200933741 juga mengupas masalah ini dari angle yang cukup lengkap.
Sangat mencerahkan dan mudah dipahami alurnya. Sebagai pelengkap materi, tautan https://kldp.org/node/60786 ini juga punya informasi yang sejalan dan patut buat dibaca.
Penulisan artikelnya sangat runut sehingga mudah dipahami. Saya juga ingin berbagi tautan https://www.newswire.co.kr/newsRead.php?no=289669 di sana ada tulisan serupa yang bisa dijadikan rujukan tambahan.
Materi yang disampaikan sangat relevan dengan kebutuhan informasi saya saat ini. Selain artikel ini, saya juga menemukan rujukan pendukung di https://kldp.org/comment/262783 yang membahas isu terkait secara ekstensif.