
Jakarta, Islam Republic Indonesia
—
Kelompok
Hamas
Palestina resmi mengumumkan pembubaran pemerintahan di
Jalur Gaza
, setelah memerintah selama hampir dua dekade.
Pembubaran pemerintahan Hamas di Gaza disebut akan membuka jalan bagi komite teknokrat untuk menerapkan pemerintahan sipil di wilayah itu.
Pengumuman pembubaran badan pemerintah Hamas diumumkan pada Senin (6/7).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kepala komite darurat pemerintah, Mohammed Al Farra, dalam pernyataannya memutuskan untuk mengajukan pengunduran diri resmi dari jabatan dan mengumumkan pembubaran Komite Darurat Pemerintah.
“Sebagai demonstrasi keseriusan langkah-langkah ini, dalam pelaksanaan kesepakatan yang telah disepakati, dan untuk memfasilitasi proses transisi administratif,” demikian bunyi pernyataan yang dirilis oleh Kantor Media Pemerintah Gaza, seperti dilansir
Al Jazeera
.
Seorang pejabat Hamas mengatakan kelompok itu menginginkan masuknya Komite Nasional untuk Administrasi Gaza (National Committee for the Administration of Gaza/NCAG) dengan cepat.
“Hamas telah mengambil langkah baru dengan tidak lagi bertanggung jawab atas Jalur Gaza, untuk menghilangkan dalih apa pun bagi pendudukan (Israel), yang terus melakukan agresi dan pemusnahan,” kata juru bicara Hamas Hazem Qassem.
“Kami berharap (NCAG) segera hadir, dan Hamas menegaskan kesiapannya untuk menyerahkan tanggung jawab pemerintahan kepada komite tersebut untuk memastikan keberhasilannya,” imbuh Qassem.
Kepala komite NCAG, Ali Shaath, menyambut baik pengumuman Hamas.
“Kami menegaskan bahwa (NCAG) sepenuhnya siap untuk memikul tanggung jawab nasionalnya segera setelah sumber daya dan kemampuan yang diperlukan tersedia,” tulis Shaath di media sosial.
NCAG diketahui telah bermarkas di luar Gaza selama berbulan-bulan, karena Israel berat hari mengizinkan komite itu masuk ke Jalur Gaza.
Sebelumnya stasiun televisi pemerintah Israel melaporkan bahwa seorang pejabat senior Hamas, Khalil Al Hayya, baru-baru ni bertemu dengan seorang penasihat Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Qatar.
Laporan ini muncul di tengah perdebatan yang sedang berlangsung di Israel, soal hasil perang di Gaza dan kemampuan Hamas di masa depan.
Komentator Israel, Avi Issacharoff, berpendapat meski hampir tiga tahun perang, Hamas sebenarnya masih mempertahankan kendali politik atas Jalur Gaza dan sedang membangun kembali kemampuan militernya.
Issacharoff menulis bahwa Israel memandang perlawanan mereka ke Hamas adalah hal yang perlu, karena mereka meyakini sayap militer kelompok itu mendapat manfaat dari pendapatan pajak dan sumber daya kemanusiaan yang masuk ke Gaza.
(dna/bac)
Add
as a preferred
source on Google
[Gambas:Video Islam Republic]
Baca lagi: Mati Suri Sejak 2020, Pramono Buka Lagi Perpustakaan Nyi Ageng Serang
Baca lagi: KARD Umumkan Rencana Bubar setelah Rilis Album dan Tur
Baca lagi: Tawaran Ditarik, Rencana Harry Menginap di Buckingham Palace Batal



4 Responses
Insightful banget bacanya pagi-pagi gini. Kalau ada yang penasaran sama studi kasus lainnya, coba deh intip http://vallee.dislam.free.fr/index.php?article13/ di situ lengkap juga.
Pemaparan dalam artikel ini sangat terstruktur dan menambah wawasan saya secara signifikan. Sebagai referensi komparatif, tautan https://kldp.org/comment/262974 juga menyajikan kajian yang selaras dan patut untuk disimak.
Materi yang disampaikan sangat relevan dengan kebutuhan informasi saya saat ini. Selain artikel ini, saya juga menemukan rujukan pendukung di https://www.newswire.co.kr/newsRead.php?no=118075&picno=46058 yang membahas isu terkait secara ekstensif.
Penjelasan di sini gampang banget dicerna dan to the point. Kalau ada yang mau cari sudut pandang tambahan seputar tema ini, coba deh mampir ke https://kldp.org/comment/352042 juga.