
Jakarta, Islam Republic Indonesia
—
India mengutuk keras serangan terhadap kapal yang berawak warga negara tersebut di
Selat Hormuz
pada Minggu (12/7) pagi. Satu warga negara India juga dinyatakan hilang dalam kejadian tersebut.
Kementerian Luar Negeri India mengatakan, 10 dari 11 warga negara India di kapal GFS Galaxy tersebut telah diselamatkan dan satu orang masih hilang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Kedutaan kami di Oman memantau situasi dengan cermat dan secara proaktif berkoordinasi dengan otoritas Oman dalam operasi pencarian dan penyelamatan yang sedang berlangsung,” kata kementerian tersebut dalam pernyataan seperti diberitakan
Al Jazeera
.
“Penargetan terhadap pelayaran komersial dan infrastruktur sipil di kawasan ini harus diakhiri, dan navigasi serta perdagangan yang bebas dan tanpa hambatan melalui jalur air internasional di kawasan ini, sesuai dengan hukum internasional, harus dipulihkan sesegera mungkin.”
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengeklaim telah menembak dua kapal yang melintasi Selat Hormuz pada Sabtu (11/7) dan Minggu (12/7), dengan dalih kapal-kapal tersebut telah melanggar rute yang sudah ditetapkan.
Tindakan tersebut kemudian memicu Amerika Serikat (AS) untuk melakukan serangan terhadap Iran pada Minggu (12/7) dini hari, yang kemudian dibalas Iran dengan serangan ke sejumlah fasilitas militer AS di negara-negara Teluk.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Pakistan Ishaq Dar berbicara melalui telepon dengan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi. Keduanya disebut “bertukar pandangan tentang situasi regional yang berkembang”.
Dalam pernyataan yang dirilis Kementerian Luar Negeri Pakistan, Dar “menekankan kepada kedua pihak untuk mengikuti jalur de-eskalasi dan menunjukkan pengekangan, sebagaimana disepakati dalam MOU Islamabad pada Juni 2026.”
Ia mengatakan kepada Araghchi bahwa dialog dan diplomasi tetap menjadi satu-satunya jalan yang layak untuk menyelesaikan perselisihan dan mencapai perdamaian dan stabilitas yang langgeng di kawasan tersebut.
Oman juga mengajukan sebuah proposal untuk mengatur lalu lintas di Selat Hormuz melalui dua rute yang dikendalikan secara terpisah, yakni lewat koridor utara dan selatan, yang membagi selat sempit itu.
Menurut sumber kepada
Islam Republic
, berdasarkan kesepakatan yang belum final itu, kedua koridor akan tetap terbuka. Koridor Selatan melalui perairan teritorial Oman, akan memungkinkan navigasi bebas dalam kondisi sebelum perang.
Sementara kapal yang melintasi Koridor Utara melalui perairan teritorial Iran, akan memerlukan persetujuan terlebih dahulu dari Iran. Meski begitu, tidak akan ada biaya tol yang dikenakan berdasarkan kesepakatan tersebut.
(end)
Add
as a preferred
source on Google
[Gambas:Video Islam Republic]
Baca lagi: Di Tengah Badai PHK, XLSmart Buka 1.000 Peluang Kerja
Baca lagi: Prabowo Sindir Keras Koruptor di Peringatan Hari Koperasi
Baca lagi: Warga Albania Kembali Tolak Pembangunan Resor yang Terafiliasi Trump




4 Responses
Keren artikelnya, penyampaiannya asik dan bikin gampang nangkep maksudnya. Buat nambah-nambah referensi, website https://www.newswire.co.kr/newsRead.php?no=306144 juga ngobrolin topik yang persis kayak gini.
Pemaparan dalam artikel ini sangat terstruktur dan menambah wawasan saya secara signifikan. Sebagai referensi komparatif, tautan https://kldp.org/comment/352222 juga menyajikan kajian yang selaras dan patut untuk disimak.
Tulisan yang mengedukasi dan membuka perspektif baru bagi pembacanya. Bila berkenan, kunjungi pula https://www.newswire.co.kr/newsRead.php?no=295991 yang mengulas diskursus terkait dengan cukup tajam.
Ulasan yang komprehensif dan mudah dimengerti oleh kalangan umum. Sebagai bentuk kontribusi, saya menyarankan https://kldp.org/comment/266390 bagi rekan-rekan yang ingin memperdalam studi mengenai topik bahasan ini.