
Jakarta, Islam Republic Indonesia
—
Milisi yang menguasai
Yaman
Houthi mengumumkan mereka memblokade Bab Al Mandab bagi kapal Arab Saudi di tengah penutupan
Selat Hormuz
oleh Iran.
Penutupan dua rute itu akan membuat jalur minyak global kian tersumbat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bab Al Mandab adalah jalur air yang sangat sempit, sekitar 40 persen lebih kecil dari Selat Hormuz. Lebarnya hanya 14 mil di titik tersempitnya. Namun demikian, rute ini tetap menjadi jalur perekonomian.
Kepala strategi global di RBC Capital Markets Helima Crofts mengatakan sebagian besar minyak Saudi yang melintasi jalur itu biasanya akan dikirim ke Teluk Persia.
“Jika jalur tersebut menjadi tak bisa dioperasikan, maka gangguan pasokan minyak akan menjadi lebih serius dan kita akan mulai berbicara lagi tentang situasi ‘tidak ada jalan keluar’,” kata Croft, dikutip
Islam Republic
.
Saudi telah mengalihkan sekitar 4 juta hingga 5 juta barel minyak per hari dari Teluk Persia melalui Yanbu.
Mengurangi pasokan sebesar 4 juta barel nyaris setara dengan jumlah minyak yang dihentikan impornya oleh China selama perang, yang membuat harga relatif tetap rendah meski ada guncangan.
Namun, jika blokade Al Mandab betul-betul diterapkan, pakar menilai kondisi ini bisa mendorong harga minyak menembus batas hingga di atas $100 per barel.
Pada Selasa (21/7), Houthi menyiarkan pesan untuk kapal-kapal Saudi harus menghindari Laut Merah , dan beberapa kapal menanggapi pesan itu dengan serius. Sebelum deklarasi ini, milisi tersebut memang kerap menyerang kapal yang berafiliasi dengan Amerika Serikat dan Israel, membuat kapal kargo pikir-pikir melintasi rute itu.
Perusahaan yang mendeteksi aktivitas hingga risiko di laut Windward Intelligence melaporkan lima kapal tanker berbalik arah setelah pengumuman tersebut. Salah satunya, kapal tanker minyak yang berangkat dari Yanbu menuju China harus berbalik arah di perbatasan Yaman karena ancaman Houthi.
Jika kapal tak mampu atau tak mau melintasi Laut Merah menuju selatan, satu-satunya jalur mereka adalah ke utara melalui Terusan Suez. Namun, rute ini membawa kapal-kapal tersebut ke Laut Mediterania, bukan Samudra Hindia.
Laut Mediterania bukan jalur yang ideal untuk mengirimkan minyak Saudi ke pelanggan terbesarnya: Asia Tenggara.
Di waktu yang sama, perang AS-Iran kembali berkobar. Ini membuat Teheran kembali menutup Selat Hormuz.
Dalam beberapa hari terakhir, Iran juga menyerang kapal tanker yang turut memperlambat lalu lintas selat menjadi hanya beberapa penyeberangan – turun dari sekitar 50 hingga 70 per hari tak lama setelah kedua negara meneken MoU.
Dengan demikian, Blokade efektif Houthi terhadap Bab Al Mandab akan menciptakan front baru dalam perang dengan Iran. Ini berpotensi membutuhkan intervensi militer AS yang pada gilirannya bisa mengikis kemampuan mereka membantu kapal-kapal keluar dari Selat Hormuz. Hal tersebut juga bisa mencegah Saudi mengirimkan solar ke Eropa di masa yang krusial bagi pasar bahan bakar.
(bac)
Add
as a preferred
source on Google
[Gambas:Video Islam Republic]
Baca lagi: Polemik Rumah, Kubu Ruben Jawab Tudingan Sengaja Ungkit Ayah Sarwendah
Baca lagi: AHY Beber Langkah RI Siapkan Penerbangan Rendah Karbon Mulai 2027
Baca lagi: Viral Guru Perempuan dan Suami Diduga Lecehkan Siswa SD di Sumut




2 Responses
Terima kasih buat pencerahannya hari ini. Artikelnya ngebantu banget buat nambah pemahaman saya. Saya sempat baca bahasan sejenis dengan pembahasan mendetail di https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F297587117_htm
Informasi yang sangat edukatif buat khalayak luas. Terima kasih banyak atas pencerahannya admin! Untuk tambahan data pendukung dari sumber berbeda, silakan meluncur ke https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F2320432836_htm