
Jakarta, Islam Republic Indonesia
—
Perang yang dikobarkan
Amerika Serikat
terhadap
Iran
sejak Februari lalu ternyata merugikan sejumlah sekutu Negeri Paman Sam sendiri.
Selain menjadi target serangan balasan Iran karena sejumlah negara di Timur Tengah menampung pangkalan AS, negara-negara sekutu ini pun ikut mengalami kerugian materiil.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Irak, salah satu mitra strategis AS di kawasan, bahkan dikabarkan rugi nyaris US$50 miliar atau sekitar Rp896 triliun buntut perang AS vs Iran.
Dikutip
AFP
, seorang pejabat pemerintah mengatakan konflik dan blokade Iran terhadap Selat Hormuz mengacaukan pengiriman dan mendorong pengurangan produksi di negara-negara penghasil minyak, termasuk Irak.
Sebelum perang, Irak memproduksi sekitar empat juta barel minyak per hari dan mengekspor rata-rata 3,5 juta barel per hari. Ekspor sebagian besar dilakukan melalui Selat Hormuz.
Namun, karena perang, negara anggota pendiri OPEC tersebut terpaksa menghentikan produksi di sebagian besar ladang minyak karena cadangan minyak membludak buntut ekspor terganggu. Pengiriman minyak Irak pun kini dibatasi hanya lewat Turki dan Suriah.
“Bagi Irak, karena penurunan ekspor minyak mencapai 90 persen… ditambah penurunan tingkat pertumbuhan… kerugian diperkirakan mencapai antara US$40 miliar (sekitar Rp716 triliun) hingga US$45 miliar (sekitar Rp806 triliun) per Juni 2026,” kata penasihat keuangan Perdana Menteri Irak Ali Al Zaidi, Muzhar Saleh.
Saleh menambahkan kerugian pendapatan bahkan bisa tembus US$50 miliar karena perang dan sengeka Selat Hormuz terus berlanjut.
Menurut seorang pejabat pemerintah lainnya yang bicara dengan syarat anonim, kerugian Irak lebih “mendekati US$50 miliar”. Ia membenarkan bahwa hal tersebut buntut penurunan ekspor.
Dalam sebuah wawancara televisi pada Selasa (21/7), Menteri Perminyakan Irak Bassem Mohammed Khudair mengatakan pihaknya biasanya memasukkan antara US$7 miliar (sekitar Rp125 triliun) hingga US$8 miliar (sekitar Rp143 triliun) per bulan ke kas negara.
“Saat ini, tidak lebih dari US$1,5 miliar (sekitar 27 triliun).
Irak sangat bergantung pada ekspor minyak mentah, yang biasanya menyumbang sekitar 90 persen di pendapatannya.
Akibat gangguan pada Selat Hormuz, Irak mulai mengekspor minyak mentah menggunakan truk tangki melalui Suriah, setelah sebelumnya melanjutkan ekspor minyak dalam jumlah terbatas lewat pipa ke pelabuhan Ceyhan di Turki.
(blq/rds)
Add
as a preferred
source on Google
[Gambas:Video Islam Republic]
Baca lagi: Hotman Paris soal Laporan Dugaan Penghinaan Wartawan: Don’t Worry Lah
Baca lagi: Bahlil Yakin Mobil Hidrogen Bakal Saingi Mobil Listrik
Baca lagi: Perangi Iran, DPR AS Loloskan RUU Anggaran Kemhan Jadi Rp20.581 T




4 Responses
Terima kasih buat pencerahannya hari ini. Artikelnya ngebantu banget buat nambah pemahaman saya. Saya sempat baca bahasan sejenis dengan pembahasan mendetail di https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F2320167693_htm
Terima kasih buat pencerahannya hari ini. Artikelnya ngebantu banget buat nambah pemahaman saya. Saya sempat baca bahasan sejenis dengan pembahasan mendetail di https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F2320386294_htm
Penjelasan yang luar biasa rapi dan ngebantu banget buat nambah pemahaman saya hari ini. Sukses selalu buat blognya min! Tautan referensi pelengkap yang lumayan oke ada di https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F2320422208_htm
Akhirnya nemu juga tulisan yang mengupas tuntas inti masalahnya secara mendalam. Sangat mengedukasi khalayak luas. Btw, kemarin saya juga tidak sengaja menemukan bahasan sejenis yang menarik di https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F297607845_htm