
Jakarta, Islam Republic Indonesia
—
Presiden
Iran
Masoud Pezeshkian
mengatakan negaranya berada dalam “perang skala penuh” dari bidang ekonomi, militer, hingga keamanan melawan Amerika Serikat.
“Kita sedang berada dalam perang ekonomi, militer, dan keamanan skala penuh,” kata Pezeshkian dalam pidatonya yang disiarkan kantor berita pemerintah Iran,
IRNA
, seperti dilaporkan
Anadolu Agency
.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia juga mengatakan pemerintah Iran sedang berupaya mengatasi kesulitan yang dihadapi masyarakat di tengah tekanan terhadap negaranya.
Pemerintah merasa “malu” karena ada masalah dalam perekonomian, katanya. Namun, Iran tetap berusaha bertahan meski menghadapi tekanan dan sanksi dari Amerika Serikat (AS).
Ia menyinggung pernyataan Presiden AS Donald Trump mengenai rencana pemberian sanksi berat terhadap Iran.
“Trump dengan mudah mengatakan bahwa mereka akan menjatuhkan sanksi yang paling berat atau paling mengerikan terhadap Iran,” ujar Pezeshkian.
Pezeshkian kemudian menegaskan Teheran “berdiri teguh” dan berusaha memenuhi kebutuhan rakyat di tengah “perang yang tidak seimbang.”
Lebih lanjut, ia mengatakan pihak yang berseberangan dengan Iran sebelumnya memperkirakan negara ini akan mengalami kondisi seperti Venezuela jika pemerintahannya jatuh.
Namun, menurut Pezeshkian, perkiraan tersebut tidak terjadi. Ia menilai Iran justru menunjukkan kekuatan melalui perlawanan, solidaritas, dan persatuan masyarakat.
“Musuh telah memperkirakan bahwa jika Iran jatuh, negara itu akan menjadi seperti Venezuela. Bukan hanya hal itu tidak terjadi, tetapi Iran malah menjadi kekuatan yang membuat dunia takjub dengan perlawanan, solidaritas, dan kohesinya,” tegasnya.
Pezeshkian menambahkan bahwa pemerintah Iran terus berupaya mencegah perpecahan dan konflik di dalam negeri.
Teheran sedang berupaya “dengan segenap kekuatan kami untuk menghindari perpecahan, konflik, dan ego,” katanya juga.
Dikutip
Middle East Monitor
, hubungan Iran dan AS sebelumnya sempat mengalami perkembangan melalui nota kesepahaman yang ditandatangani pada Juni.
Kesepakatan tersebut dimediasi Pakistan dan Qatar dan mengakhiri permusuhan yang dimulai pada Februari.
Kedua negara kemudian sepakat melanjutkan perundingan untuk mencapai kesepakatan akhir. Namun, proses tersebut kembali terhenti akibat perbedaan pandangan mengenai pelaksanaan nota kesepahaman serta pengaturan navigasi di Selat Hormuz.
Selat Hormuz merupakan jalur penting bagi perdagangan dan ekspor minyak serta gas dunia.
(mge/bac)
Baca lagi: Tiba di Riau, Prabowo Langsung Gelar Rapat Penanganan Karhutla
Baca lagi: 7 Ritual Unik Traveler, Bawa Bawang Putih hingga Tunda Sapu Rumah
Baca lagi: Moon Geun-young Balik Layar Lebar, Main Film Sutradara Colony

